Sabar dan Syukur Kunci Kebahagiaan

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sahabat-sahabat yang budiman dan selalu dirahmati Allah SWT. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Semua agama di dunia ini tentunya menganjurkan setiap umatnya untuk bersabar dan bersyukur. Namun pada kenyataannya manusia sering kali lupa akan kewajibannya untuk sabar dan bersyukur dalam kehidupannya sehari-hari.


Padahal, jika kita melakukan kedua hal tersebut maka kita akan mudah merasakan kebahagiaan dalam hidup yang sementara ini. Dalam Islam, iman terdiri dari dua bagian, yaitu yang pertama adalah sabar, dimana bagian yang lain adalah bersyukur.

Hal ini seperti yang tercantum dalam hadits Rasulullah SAW dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwa iman tak bakal mampu berdiri kokoh jika salah satu bagian itu tak diperkuat. Kedua pilar itu bagaikan dua sisi dari sebuah mata uang, yang tak dapat dipisahkan untuk membangun sebuah keimanan secara kokoh.




Apakah Makna Sabar?
Untuk mencapai sebuah kebahagiaan di dunia serta di akhirat, kita semua harus mampu untuk mengamalkan dua pilar ini, yaitu sabar dan syukur.

"Kalau kamu bersabar serta bertakwa, dan mereka tiba menyerang kamu dengan sekejap itu juga, niscaya Allah akan menolong dari setiap kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda." (QS. Ali Imran: 125)

Jika kita sabar, maka kita akan mendapatkan pahala dan tentunya kebahagiaan yang dalam bentuk keteguhan hati dalam melakukan dan menerima sesuatu.



Apakah Makna Syukur?
Syukur adalah tindakan yang menyadari bahwa tak ada yang memberi kenikmatan dan kebahagiaan kecuali Allah SWT semata.  Ar-Raghib Al-Isfahani, sebagai seorang pakar bahasa Al-Quran, merilis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata syukur mengandung arti gambaran dalam benak soal nikmat dan memunculkannya ke permukaan.

Kata "syukur" sendiri berasal dari kata “kasyara” yang bermakna "membuka." Dimana ia adalah lawan dari kata "kafara" yang bermakna menutup, yang mana artinya ialah melalaikan nikmat serta menutup-nutupi nikmat yang ada.

Jika kita selalu merasa bersyukur, maka kita akan selalu merasa cukup dan tidak rakus sebagai seorang manusia. Nafsu kita dalam mengejar duniawi akan terkontrol, sehingga membuat kita selalu berada di batas kita sebagai hamba Allah SWT. Sehingga kita akan selalu merasa bahagia secara batin dan akan menambah kenikmatan kita. Dan hal ini sudah merupakan janji dari Allah SWT.



Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman (mukmin). Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Dan tidaklah hal itu terjadi pada seseorang kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan jika menghadapi kesulitan, dia bersabar, maka itu kebaikan baginya." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa semua perkara atau urusan dapat menjadi suatu kebaikan, hanya bagi orang yang beriman, sehingga kebaikan atau kebahagiaan hanyalah bisa didapatkan dengan keimanan kepada Allah Ta’ala. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa iman merupakan satu bagian, yang mana setengah bagiannya adalah sabar dan setengah bagian lainnya adalah syukur. (Ta’liq Al-Umurul Mu’inah ‘ala Ash-Shabri ‘ala Adza Al-khalqi, hal. 30-31)

Sabar mempunyai kedudukan yang agung dan tinggi dalam agama. Allah Ta’ala telah menyebutkan agung dan tingginya kedudukan sabar dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Allah telah menyebutkan (tentang) sabar dalam Al-Qur’anul Karim sebanyak lebih dari 90 tempat.”

Hal ini menunjukkan dengan jelas kepada kita atas agungnya perkara sabar dan tingginya kedudukannya. Seorang hamba sangat membutuhkan kesabaran, baik bersabar dalam perkara ketaatan untuk melakukannya, bersabar dari perkara yang dilarang sehingga meninggalkannya, dan bersabar dalam perkara takdir berupa musibah yang membuat resah dan marah. (Ta’liq Al-Umurul Mu’inah ‘ala Ash-Shabri ‘ala Adza al-khalqi oleh Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 3-4)


Begitu pula dengan syukur. Para ulama rahimahumullah menjelaskan bahwa syukur terdiri dari 3 rukun, yaitu :

1. Dengan hati, yaitu meyakini nikmat yang didapat adalah pemberian dari Allah Ta’ala semata.
2. Dengan lisan, yaitu memuji Allah Ta’ala atas segala nikmatNya.
3. Dengan anggota tubuh, yaitu menggunakan anggota tubuh untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Puncak dari syukur seorang hamba adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala yang dilakukan dengan anggota tubuhnya, yaitu menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, sehingga mengantarkan hamba kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Semoga setiap saat, kita semua sebagai seorang Muslim selalu dapat bersabar dan mensyukuri segala nikmatNya sekecil apapun dan dalam kondisi apapun. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua untuk saling mengingatkan kebaikan di jalan yang Allah SWT ridhoi.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sabar dan Syukur Kunci Kebahagiaan"

Posting Komentar